STITNU Al Farabi dan Masyarakat Gali Sejarah dan Tetapkan Hari Jadi Desa Bojong Pangandaran
ALFARABI.AC.ID | PANGANDARAN, 4 September 2024 — Akademisi STITNU Al Farabi Pangandaran dan warga Desa Bojong, yang berada di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, baru saja mengadakan simposium dan diskusi panel bertema “Menggali Sejarah dan Penetapan Hari Jadi Desa Bojong” . Acara ini diadakan di Balai Desa Bojong dan melibatkan berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat, sejarawan, budayawan, pemerintah daerah, dan akademisi dari STITNU Al Farabi Pangandaran.
Menggali Sejarah dan Menetapkan Identitas Desa
Simposium ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang sejarah Desa Bojong, sekaligus merumuskan hari jadi resmi desa untuk memperingati sejarah berdirinya. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya lokal.
Acara dibuka dengan sambutan dari Sekretaris Desa Bojong, dilanjutkan oleh Kepala Desa Bojong, Koko Kovandi, yang menekankan pentingnya acara ini dalam memperkuat identitas desa dan membangun rasa kebersamaan. “Sejarah desa kita adalah cerminan dari perjalanan panjang nenek moyang kita. Dengan mengetahui dan merayakan hari jadi, kita tidak hanya menghargai masa lalu, tetapi juga memupuk rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda,” ujar Bapak Koko.
Dalam sambutannya, Dr. Dasep Supriatna Ubaidillah, M.Ag., M.Pd., Ketua STITNU Al Farabi Pangandaran, menyampaikan harapannya agar simposium ini dapat mendorong Desa Bojong semakin maju, baik dalam aspek sosial budaya, ekonomi, maupun pariwisata. “Desa Bojong adalah salah satu penopang pariwisata Pangandaran,” ujarnya.
Diskusi Panel: Menelusuri Asal Usul Desa Bojong
Diskusi panel yang dipandu oleh Dr. Erik Krisna Yudha, S.S., M.Si., Ketua Lembaga Adat Kabupaten Pangandaran, menghadirkan berbagai pembicara dari seluruh elemen masyarakat yang membahas aspek sejarah Desa Bojong, termasuk asal-usul nama desa, perkembangan sepanjang tahun, dan perannya dalam sejarah lokal. Narasumber lain seperti Didin Jentreng, seorang budayawan dan praktisi budaya Kabupaten Pangandaran, serta tokoh-tokoh desa juga berbagi wawasan mengenai tradisi dan kebudayaan yang berkembang di Desa Bojong.
Setelah sesi diskusi, para peserta menyepakati tanggal 12 Juli sebagai hari jadi resmi Desa Bojong, berdasarkan hasil kajian dan konsensus dalam forum tersebut. Tanggal ini dianggap sebagai simbolisasi dari berdirinya desa, didukung oleh dokumen sejarah yang ada. Dede Nurul Qomariah, M.Pd., Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok KKN Desa Bojong, mengapresiasi kegiatan ini dan menyebutkan bahwa “Desa Bojong memiliki sejarah yang kaya dan beragam, mencerminkan dinamika sosial dan budaya di wilayah ini. Penetapan hari jadi yang tepat semoga dapat membantu menjaga dan melestarikan sejarah Desa Bojong.”
Kegiatan ini ditutup dengan foto bersama, penandatanganan nota kesepahaman, dan peluncuran buku kecil yang berisi catatan sejarah dan profil Desa Bojong. Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat dan generasi mendatang untuk memahami dan menghargai sejarah serta budaya lokal mereka. Acara ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat setempat dan diharapkan menjadi awal dari serangkaian kegiatan lanjutan untuk memperkenalkan dan merayakan sejarah Desa Bojong.
